PERMATA YANG HILANG

 Aisha Titi Soedjari

Aku terlambat lagi!! Kenapa setiap hari Kamis aku selalu terlambat? Untung saja, gurunya juga sering terlambat, aku bicara dalam hati. Aku berputar-putar agar aku tidak dicurigai kalau aku terlambat, padahal aku memang terlambat. Ternyata semua teman-temanku sudah berada di perpustakaan. Tanpa berpikir panjang aku berlari ke perpustakaan.

Bruuuuk!!!!! Aku bertabrakan dengan seorang perempuan yang umurnya sebaya denganku, bukunya berjatuhan dan mengenai sepatuku.

“Aww!!!” teriakku menahan rasa sakit.

“Maaf, maaf, aku terburu-buru” jawabnya sambil membereskan bukunya.

“Iya aku juga minta maaf, sory aku cepet-cepet” aku pun berlari menuju perpustkaan.

Dengan nafas terengah-engah aku berada di depan perpustakaan. Seorang perempuan berambut panjang mengagetkanku…!!

“Kenapa kamu An? Muka kamu merah begitu, seperti dikejar hantu?” selidik Riska

“Kamu Ka, enggak kenapa-kenapa Ka, biasa, Kamis aku selalu telat hehe” jawabku tersenyum.

“Aku kira kenapa, makannya kalau bangun itu yang pagi, udah tahu rumahmu jauh tetep aja nekat berangkat setengah tujuh dari rumah” jawab Riska sambil menasihatiku.

“Iya Miss Bawel” ungkapku seenaknya.

“O, iya An, tadi aku lihat kamu bertabrakan dengan seorang perempuan, tapi kok kamu yang minta maaf, padahal biasanya kamu khan langsung marah-marah, enggak tahu yang salah siapa, kamu tetep nyalahin orang lain” tanya Riska setengah kuatir.

“Eemmmm, enggak tahu kenapa rasanya pengen minta maaf, feelingku beda ke dia, padahal aku juga enggak kenal siapa.

“Aneh kamu, An”

Aku dan Riska bergegas masuk ke perpustakaan. Kami membicarakan tentang kegiatan yang akan kami lakukan pulang sekolah nanti. Di perpustakaan kami dikagetkan oleh Kepala Sekolah yang sudah berada di antara teman-temanku. Ternyata  ada anak baru yang akan masuk ke kelasku. Setelah Kepala Sekolah memperkenalkan murid baru, aku tersadar bahwa murid baru itu yang menabrakku tadi pagi. Oh anak baru pikirku dalam hati. Aku langsung menyapanya.

“Hai aku Andrea” aku menyapa perempuan berambut lurus tersebut.

“Oh, hai aku Raffa, kamu yang tadi pagi khan? Aku minta maaf,” katanya dengan lembut.

“Ternyata kamu masih inget aku, iya aku juga” sambil memperhatikan paras Raffa aku berkata dalam hati cantik, manis, putih, sepertinya pinter, perfect!!!

Diam-diam aku mengagumi sosok Raffa, tapi jika terus seperti itu artinya aku enggak pernah bersyukur pada apa yang sudah diberikan Tuhan kepadaku. Aku terdiam dalam keramaian.

Hari demi hari berganti. Aku, Riska, dan Raffa bersahabat hingga hari ini. Tak terasa sudah 2 tahun lamanya, aku dengar Raffa mulai dekat dengan seorang mahasiswa negeri yang terkenal di kotaku, semakin lama Raffa mulai menjuh dari Aku dan Riska. Setiap janji yang dia buat tidak pernah dia tepati, dia selalu mengingkari. Aku kecewa dengan Raffa, sosok yang kukagumi menjadi sosok yang sangat aku benci.

*******

            Istirahat pertama seperti biasa, seorang perempuan berambut pendek seperti laki-laki terdiam membaca buku, tetapi sebenarnya perempuan itu tidak membaca buku melainkan dia sedang melamunkan sesuatu. Brraak!!!!

“Ada apa?” tanyaku kaget.

“Ngelamun aja kamu, enggak ada kegiatan lain apa?” tanya Riska sengit.

“Maaf, aku hanya berpikir”

Pulang sekolah terasa lebih lambat dari biasanya, Aku bertemu dengan Raffa di depan toko buku, Raffa bersama dengan seorang lelaki yang menurutku sama perfect-nya seperti Hilma. Aku hanya tersenyum dingin dan berpura-pura tidak mengenal Raffa.

Aku mematung di dalam kamar, kenapa harus fisik yang di lihat terlebih dahulu bukan hati!?? Umpatku dalam hati. Enggak tahu kenapa amarah ini semakin menjadi, tiba-tiba HP-ku bergetar, ternyata Raffa.

Kamu kenapa Andrea, kamu marah sama aku?

“Aaaarrgghhh” amarahku semakin menjadi

Pikiranku melayang-layang entah kemana, tak terasa adzan menyadarkan dan mengingatkanku tentang Tuhan. Dalam sujudku aku bercerita tentang hidupku kepada sang Pencipta, dan membuatku lebih tenang.

*******

            Di lain sisi, Raffa sedang terbaring di dalam kamarnya, seorang wanita menangis tak kuasa menahan kesedihannya, seorang wanita yang telah melahirkannya.

“Pah, cepetan panggil dokter” ucap wanita itu

“Sudah Mah, Mamah jangan khawatir”

“Bagaimana enggak khawatir Pah, Raffa anak kita satu-satunya, terbaring menahan semua rasa sakitnya selama bertahun-tahun” tangis wanita itu pun semakin menjadi.

“Mah, Pah” ucap Raffa pelan.

“Ada apa, sayang?” ucap Papa, dan Mama Raffa hampir bersamaan.

“Jangan beritahu Andrea tentang penyakitku, biarkan aku berkreasi dengan hidupku, aku tak mau membuat kesedihan untuk orang lain”

Orang tua Raffa mengerti dengan keadaan Hilma. Mereka selalu berusaha untuk menyembunyikan semuanya. Mereka terpaksa berbohong untuk kebaikan dan kebahagiaan Raffa. Mereka berbohong bahwa seorang mahasiswa yang selalu bersama Raffa adalah pacar Raffa, tetapi sebenarnya mahasiswa itu adalah dokter sekaligus kakak tiri Raffa.

*******

            Entah kenapa kebencianku terhadap Raffa semakin menjadi. dan kenapa Rena semakin menghasutku bahwa Raffa adalah seorang  pecundang yang sangat pintar mencari perhatian? Aku berpikir dalam hati.

Riska tidak mempercayai semua yang diceritakan Andrea. Disisi yang lain Raffa sudah tidak pernah berangkat sekolah. Enggak tahu kenapa firasat Riska berbeda, ada yang ganjil dengan keadaan Raffa. Apakah Raffa hamil? Ataukah Raffa pindah sekolah? Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Riska.

Di depan rumah Raffa, Riska mematung sesaat, terdengar suara tangisan yang membuat hati Riska benar-benar teriris. Suara ambulan pun datang. Menyeruak di antara gang-gang sempit.

“Raffa, kamu harus kuat sayang, kamu enggak boleh menyerah!!!!” seorang wanita menagis mengiringi Raffa.

“Tante, Raffa kenapa?” tanya Riska

“Ayo ikut Tante” wanita itu hanya tersenyum menahan tangis.

“Ta..tapi”

Akhirnya mereka memasuki ambulan.

Di rumah sakit satu persatu pertanyaan demi pertanyaan Riska terjawab, Riska tak mampu menahan air matanya. Antara khawatir dan iba terhadap Raffa. Ela terus berpikir bagaimana menjelaskan senua ini terhadap Andrea, karena Andrea adalah seorang yang tak mudah memaafkan.

Kelas masih sunyi, Riska menghampiri Andrea yang sedang duduk termenung.

“Andrea, kamu harus mamaafkan Raffa, Raffa enggak seburuk yang kamu pikirkan” ungkap Riska dengan nada hati-hati.

“Apa urusan kamu? Enggak penting memikirkan perempuan cari perhatian itu!”

“Andrea kamu salah, Raffa bukan cari perhatian, Raffa….” ucapan Riska terpotong.

“Apa??? Kamu enggak berani jawab?! Kamu mau dibodohi Raffa! Apa emang kamu yang bodoh?!” kata Andrea dengan kasar.
“Cukup An, kamu keterlaluan! Suatu saat kamu pasti akan tahu!!” teriak Riska hampir manampar Andrea.

Di sisi yang lain Rena tersenyum dingin melihat pertengkaran sahabat itu. Rasakan kalian, ucap Rena dalam hati.

Riska menangis mendengar ucapan Andrea. Riska enggak menyangka semuanya akan jadi seperti ini. Riska terus menangis, diiringi telfon dari mama Raffa bahwa Raffa sedang koma.

Riska berlari menuju rumah sakit. Tak dihiraukannya ulangan matematika yang menjadi kelemahannya. Riska duduk di samping Raffa yang terbaring.

“Ka…” panggil Raffa lirih.

“Raffa kamu sudah sadar, terimakasih Tuhan,,,” jawab Riska dengan menangis.

“Ka, Andrea mana? Kok di sini enggak ada?

“Andre, dia…”

“Dia belum bisa memaafkan aku ya? Di saat terakhirku?

Riska tersentak kaget dengan perkataan Raffa, Riska hanya tersenyum menahan kepedihannya.

*******

            Aku terbaring, pikiranku kosong. Kenapa tadi Riska enggak masuk, dia mengorbankan ulangannya? Pikiranku terbayang-bayang ke Riska, sekelebat bayangan Raffa ikut datang merasuki pikiranku.

Aku berjalan menuju jendela, Bumi seolah marah padaku, petir dan guyuran hujan seperti memberi tanda untukku. Tetapi rasa benciku terhadap Raffa masih membara dalam hati kecil ini. Terdengar bel dari depan rumah.

Terlihat wanita berkerudung berada di depan teras rumahku dalam keadaan basah kuyub. Awalnya aku tak menyadari siapakah perempuan itu? Tetapi jantungku sejenak berhenti berdetak, wanita yang kusebut pencari perhatian kini sudah memakai kerudung.

“Kenapa kamu di sini?” ucapku setengah membentak.

“Maafkan aku,,, Andrea, aku engggak bermaksud…” ucap Raffa menahan rasa sakit.

“Sudahlah pergi sana!! Aku muak melihat wajah kamu!!

“Sebelum aku pergi, dan mungkin aku enggak akan kembali. Aku mau mengucapkan, selamat malam. Semoga kamu bahagia dengan hari-harimu, selalu tersenyum karena senyum itu indah. Jangan pernah menangis, jangan pernah menyerah dalam hidup kamu. Tuhan enggak akan memberi cobaan jika hamba-NYA enggak mampu menghadapinya dan cobaan itu adalah warna pelangi dalam hidup kamu. Jangan seperti aku yang mengangap semuanya gelap tak ada warna, tapi karena kamu warna itu ada,,,You are everything

Aku terdiam menatap kepergian Raffa. Dari jauh sayup-sayup ku melihatnya berjalan, ucapannya begitu memaksaku untuk menangis. Perlahan pintu kututup hingga pagi menjelang.

Aku berdiri mematung sesaat. Tanah masih penuh dengan bunga-bunga bertaburan, para pelayat sudah mulai pulang, hanya kenangan-kenangan manis dan pahit yang tersisa, ada apa denganku? Penyesalan datang tiba-tiba. Aku terus berpikir, ucapan terakhir Raffa masih terngiang di telingaku, dan kini aku sadar dia benar-benar tak akan kembali.

Menangis tak akan menyelesaikan masalah. Harapanku hanya satu, mencoba berubah, mencoba memaafkan. Tuhan bisa memaafkan kenapa aku tidak? Dan membuat Raffa tersenyum di sana, bersama bintang-bintang di langit, aku yakin dia akan tersenyum, seperti senyum saat dia mengucapkan selamat malam untukku.

Raffa seperti permata yang indah bagiku dan hidupku. Dia mampu memaafkan kesalahanku. Tetap bersinar walaupun dia terluka. Sinar berupa senyuman tanpa dendam. Membuat orang yang melihatnya juga akan ikut tersenyum. Tapi sekarang, permata itu seakan hilang, dan benar-benar menghilang seiring berjalannya waktu.

“You give me strength you give me hope

You give me someone to love someone to hold

When I’m in your arms

I need you to know

I’ve never been

I’ve never been this close”

Petikan gitar membawaku hanyut dalam sebuah lagu. Hingga tak terasa sore berubah menjadi malam. Gelap tapi menurutku indah. Entah kenapa selalu saja aku hanyut dalam suasana. Aku berharap permata yang hilang akan kembali memberikan senyuman.

Di Ruang Penghujung, Lereng Gunung Merbabu, Mei 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s